Siapa Golongan Khawarij? Sejarah & Ajaran Khas

by ADMIN 47 views
Iklan Headers

Hey guys, pernah dengar istilah Golongan Khawarij? Kalau belum, atau mungkin pernah dengar tapi masih bingung, yuk kita kupas tuntas bareng-bareng! Jadi gini, golongan Khawarij adalah kelompok yang keluar dari golongan utama Muslim pada masa awal Islam. Mereka punya pandangan dan prinsip yang cukup berbeda, bahkan bisa dibilang radikal, dari mayoritas umat Islam saat itu. Kenapa sih mereka bisa dibilang 'keluar'? Ini bukan cuma soal fisik memisahkan diri, tapi lebih ke arah penolakan terhadap kepemimpinan dan pandangan yang dianut oleh para sahabat Nabi dan tabi'in yang jadi mayoritas. Konsep 'keluar' ini jadi ciri khas utama mereka, guys. Sejarah mencatat, kemunculan Khawarij ini berawal dari perselisihan tajam terkait masalah kepemimpinan setelah wafatnya Utsman bin Affan dan masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ada beberapa tokoh dan pendukung Ali yang tidak setuju dengan keputusan-keputusan politik yang diambilnya, terutama terkait penyelesaian konflik dengan Muawiyah. Nah, dari ketidaksetujuan inilah muncul kelompok yang kemudian dikenal sebagai Khawarij. Mereka menganggap keputusan untuk berunding atau tahkim (arbitrase) itu sebagai penyimpangan dari ajaran Islam yang sebenarnya. Bagi mereka, hukum Allah itu mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lewat perundingan manusia. Pokoknya, siapa pun yang dianggap menyimpang dari interpretasi mereka tentang Islam, langsung dicap kafir dan halal darahnya. Ngeri banget kan? Ini yang bikin golongan Khawarij adalah kelompok yang keluar dari golongan karena mereka memisahkan diri secara ideologi dan bahkan secara fisik dari masyarakat Islam yang ada.

Akar Sejarah Kemunculan Khawarij

Ngomongin soal akar sejarah, kemunculan golongan Khawarij adalah kelompok yang keluar dari golongan mayoritas itu nggak bisa lepas dari peristiwa monumental di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Kalian pasti inget kan soal Perang Jamal dan Perang Shiffin? Nah, dua peristiwa besar inilah yang jadi lahan subur bagi tumbuhnya ideologi Khawarij. Setelah Perang Shiffin, terjadi sebuah insiden yang namanya tahkim atau arbitrasi. Intinya, Ali bin Abi Thalib setuju untuk menyelesaikan sengketa dengan kubu Muawiyah melalui perundingan yang dipimpin oleh dua orang wakil (hakim). Nah, justru dari keputusan damai inilah muncul ketidakpuasan dari sebagian pengikut Ali. Mereka merasa bahwa keputusan untuk berunding itu adalah sebuah kekufuran, karena menurut mereka, hanya Allah yang berhak membuat keputusan. 'La hukma illa lillah' (Tidak ada hukum kecuali milik Allah) menjadi semboyang mereka. Mereka yang tidak setuju dengan tahkim ini kemudian memisahkan diri dari pasukan Ali di sebuah tempat bernama Harura'. Dari sinilah mereka mulai membentuk kelompok sendiri dengan doktrin yang semakin ekstrem. Golongan Khawarij adalah kelompok yang keluar dari golongan dengan membawa pemahaman agama yang sangat literal dan kaku. Mereka menganggap bahwa setiap Muslim yang melakukan dosa besar (seperti Ali dan Muawiyah yang dianggap mereka berbuat dosa karena tahkim) maka statusnya langsung berubah menjadi kafir. Ini pandangan yang sangat berbeda jauh dari pandangan mayoritas ulama yang menyatakan bahwa pelaku dosa besar tetap mukmin tetapi fasiq (berdosa).

Ajaran Kunci dan Ciri Khas Khawarij

Nah, sekarang kita bahas lebih dalam soal ajaran dan ciri khas yang bikin golongan Khawarij adalah kelompok yang keluar dari golongan lainnya. Salah satu ajaran paling menonjol dari Khawarij adalah pandangan mereka tentang takfir. Takfir ini artinya mengkafirkan. Mereka punya standar yang sangat ketat dalam menentukan siapa yang berhak disebut Muslim. Bagi Khawarij, siapa pun yang melakukan dosa besar, bahkan yang dianggap kesalahan kecil sekalipun menurut interpretasi mereka, maka langsung otomatis keluar dari Islam alias menjadi kafir. Ini termasuk para pemimpin mereka yang tidak sejalan dengan pandangan Khawarij. Gila kan? Jadi, kalau ada pemimpin yang menurut mereka 'salah langkah', ya sudah, langsung dikafirkan dan dianggap halal darahnya untuk diperangi. Ini yang membuat mereka sering terlibat konflik bersenjata dengan pemerintahan Muslim saat itu. Selain itu, Khawarij juga punya pandangan unik tentang kepemimpinan. Mereka berpendapat bahwa seorang pemimpin harus dipilih secara langsung oleh umat Islam, tanpa memandang suku, bangsa, atau bahkan keturunan. Siapa pun yang paling mampu dan dianggap paling saleh menurut mereka, berhak menjadi pemimpin. Konsep khalifah yang diwariskan atau dipilih berdasarkan garis keturunan itu mereka tolak mentah-mentah. Yang lebih ekstrem lagi, mereka bahkan percaya bahwa seorang awam (orang biasa) pun bisa menjadi pemimpin jika memang kualifikasinya terpenuhi. Ini berbeda banget dengan pandangan mayoritas yang mengakui sistem kekhalifahan yang ada. Golongan Khawarij adalah kelompok yang keluar dari golongan lain karena mereka punya pandangan takfir yang ekstrem dan syarat kepemimpinan yang sangat terbuka namun diiringi dengan penolakan keras terhadap otoritas yang ada jika tidak sesuai dengan kehendak mereka. Ajaran ini yang membuat mereka seringkali menjadi ancaman bagi stabilitas negara dan masyarakat Islam pada masanya. Mereka juga seringkali melakukan pembaiatan terhadap pemimpin mereka sendiri di luar struktur kekhalifahan yang sah, yang semakin memperkuat status mereka sebagai kelompok yang memisahkan diri secara ideologis dan politis.

Dampak dan Warisan Khawarij dalam Sejarah Islam

Terus, apa sih dampaknya dari munculnya golongan Khawarij adalah kelompok yang keluar dari golongan mayoritas ini? Ternyata dampaknya lumayan terasa lho, guys, terutama dalam sejarah perpolitikan dan pemikiran Islam. Karena pandangan mereka yang sangat keras dan cenderung memvonis kafir siapa saja yang tidak sejalan, Khawarij seringkali menjadi oposisi yang militan terhadap kekhalifahan yang ada. Mereka nggak segan-segan melakukan pemberontakan bersenjata untuk menggulingkan penguasa yang mereka anggap zalim atau menyimpang. Hal ini tentu saja menimbulkan ketidakstabilan dan memakan banyak korban jiwa di kedua belah pihak. Peristiwa-peristiwa sejarah mencatat banyak sekali konflik antara Khawarij dengan pasukan pemerintah. Dari sisi pemikiran, ajaran Khawarij ini sempat memicu perdebatan sengit di kalangan ulama tentang bagaimana seharusnya menyikapi perbedaan pendapat dalam Islam. Para ulama mayoritas berusaha menjelaskan bahwa perbedaan pandangan itu wajar dan tidak lantas menjadikan seseorang keluar dari Islam, apalagi sampai halal darahnya. Mereka juga menekankan pentingnya menjaga persatuan umat. Walaupun pandangan Khawarij dianggap menyimpang, mereka juga meninggalkan semacam 'warisan' dalam bentuk semangat perlawanan terhadap tirani, meskipun cara mereka sangat ekstrem. Beberapa kelompok yang muncul di kemudian hari, baik di dunia Islam maupun di luar, terkadang mengadopsi sebagian retorika atau taktik perlawanan yang mirip dengan Khawarij, meskipun konteks dan ajarannya mungkin berbeda. Penting untuk diingat, guys, bahwa mayoritas ulama Islam sepanjang sejarah telah mengutuk keras pandangan ekstrem Khawarij, terutama terkait takfir dan penghalalan darah sesama Muslim. Jadi, meskipun golongan Khawarij adalah kelompok yang keluar dari golongan dalam sejarah, ajaran mereka yang paling keras itu tidak pernah diterima oleh arus utama pemikiran Islam. Justru, banyak pemikiran Islam yang berkembang sebagai respons untuk membantah dan meluruskan pemahaman yang salah dari Khawarij. Misalnya, penekanan pada pentingnya ahlul halli wal aqdi (orang yang memiliki wewenang mengikat dan melepaskan) dalam pemilihan pemimpin, atau prinsip bahwa pelaku dosa besar tidak otomatis kafir, itu semua adalah bagian dari upaya untuk menjaga akidah dan persatuan umat dari pemahaman yang menyimpang. Dengan memahami sejarah Khawarij, kita bisa belajar banyak tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam beragama, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak mudah menghakimi orang lain.