Perbedaan Bahasa Jawa Pria Dan Wanita: Panduan Lengkap

by ADMIN 55 views
Iklan Headers

Selamat datang, gaes! Pernah nggak sih kalian penasaran kenapa bahasa Jawa itu katanya punya banyak tingkatan? Atau, lebih spesifik lagi, kenapa kadang ada perbedaan gaya bahasa Jawa antara pria dan wanita? Nah, artikel ini bakal jadi panduan lengkap buat kalian yang pengen menyelami lebih dalam keunikan ini. Bahasa Jawa, sebagai salah satu bahasa daerah yang paling kaya di Indonesia, memang punya keistimewaan tersendiri, terutama dalam hal unggah-ungguh alias etika berbahasa. Ini bukan cuma soal sopan santun umum, tapi juga sampai pada perbedaan ekspresi verbal yang dipengaruhi oleh gender. Yuk, kita bongkar tuntas perbedaan bahasa Jawa pria dan wanita yang seringkali bikin penasaran banyak orang, bahkan kadang bikin kita yang asli Jawa sendiri melongo saking kompleksnya. Kita akan melihat bagaimana budaya dan tradisi membentuk cara pria dan wanita Jawa berkomunikasi, dari pemilihan kata, intonasi, hingga ekspresi non-verbal. Ini semua penting banget, bukan cuma buat belajar bahasa, tapi juga buat memahami filosofi hidup masyarakat Jawa yang penuh dengan keharmonisan dan penghormatan. Jadi, siapkan diri kalian ya, karena kita akan menjelajahi dunia linguistik yang mempesona ini!

Pembuka: Mengapa Bahasa Jawa Begitu Unik?

Bahasa Jawa memang dikenal sebagai salah satu bahasa yang punya keunikan luar biasa, dan salah satu aspek yang paling mencolok adalah sistem tingkatan bahasa atau yang sering disebut unggah-ungguh. Bagi kalian yang belum akrab, unggah-ungguh ini ibarat peta jalan yang menuntun kita dalam memilih kata dan cara bicara berdasarkan siapa lawan bicara kita, apa status sosialnya, bagaimana hubungannya dengan kita, dan bahkan, siapa yang sedang berbicara itu sendiri – apakah pria atau wanita. Keunikan ini bukan cuma sekadar variasi kata, loh, tapi merupakan cerminan mendalam dari nilai-nilai budaya Jawa yang sangat menjunjung tinggi kesopanan, penghormatan, dan harmoni sosial. Setiap pilihan kata, setiap intonasi, dan bahkan gestur saat berbicara, semuanya punya makna dan fungsi sosialnya sendiri. Misalnya, untuk menyapa orang yang lebih tua, kita tidak bisa sembarangan menggunakan kata "kowe" (kamu dalam bahasa ngoko), tapi harus menggunakan "panjenengan" (Anda dalam bahasa krama inggil) agar terdengar sopan dan menghormati. Ini menunjukkan betapa teliti dan berhati-hatinya orang Jawa dalam berkomunikasi. Sistem yang kompleks ini membuat bahasa Jawa jadi tantangan sekaligus pesona bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya. Bayangkan, satu kata kerja seperti "makan" saja bisa punya beberapa variasi: mangan (ngoko), nedha (krama madya/inggil), atau dhahar (krama inggil khusus untuk orang yang sangat dihormati). Nah, kerumitan ini jadi semakin menarik ketika kita menyadari bahwa gender ikut memengaruhi bagaimana seseorang menggunakan tingkatan-tingkatan bahasa ini. Jadi, jangan heran kalau gaya bahasa Jawa antara pria dan wanita seringkali memiliki ciri khas yang berbeda. Ini adalah bagian dari kekayaan budaya yang patut kita apresiasi dan lestarikan, gaes!

Menyelami Unggah-Ungguh: Fondasi Bahasa Jawa

Untuk benar-benar memahami perbedaan bahasa Jawa pria dan wanita, kita wajib banget mengenal unggah-ungguh secara lebih mendalam. Ini adalah fondasi utama dalam berbahasa Jawa, semacam aturan main yang mengatur etika komunikasi. Secara garis besar, unggah-ungguh membagi bahasa Jawa menjadi beberapa tingkatan utama, yaitu Ngoko, Krama Madya, dan Krama Inggil. Masing-masing tingkatan ini punya kosakata, struktur kalimat, dan fungsi sosial yang berbeda-beda. Misalnya, Ngoko adalah tingkatan bahasa yang paling kasual dan santai. Biasanya digunakan antar teman sebaya yang sudah akrab, atau oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Kosakatanya cenderung lebih lugas dan langsung. Contohnya, "kowe arep menyang ngendi?" (kamu mau pergi ke mana?). Kemudian ada Krama Madya, yang tingkat kesopanannya lebih tinggi dari Ngoko. Ini digunakan dalam situasi yang lebih formal, atau ketika berbicara dengan orang yang belum terlalu akrab, atau yang statusnya sejajar namun kita ingin menunjukkan penghormatan. Contohnya, "panjenengan badhé tindak pundi?" (Anda mau pergi ke mana?). Dan yang paling tinggi adalah Krama Inggil, yang merupakan puncak dari kesopanan. Krama Inggil wajib digunakan saat berbicara dengan orang yang sangat dihormati, seperti orang tua, guru, atau tokoh masyarakat. Kosakatanya paling halus dan seringkali berbeda jauh dari Ngoko. Contohnya, "panjenengan badhé tindak pundi?" (kata tindak adalah bentuk Krama Inggil dari pergi). Nah, perbedaan kosakata ini sangat penting untuk diperhatikan. Misalnya, untuk kata "makan", ada mangan (ngoko), nedha (krama madya), dan dhahar (krama inggil). Atau untuk kata "tidur", ada turu (ngoko), tilem (krama madya), dan sare (krama inggil). Bukan cuma kosakata, bahkan akhiran kata kerja atau partikel pun bisa berbeda di setiap tingkatan. Pemahaman yang kuat tentang unggah-ungguh inilah yang akan membuka pintu kita untuk menyelami bagaimana peran gender memengaruhi pilihan bahasa, dan bagaimana pria dan wanita secara budaya diharapkan untuk menguasai dan menggunakan tingkatan-tingkatan ini dengan cara yang sedikit berbeda. Ini bukan cuma soal aturan linguistik, tapi juga tentang identitas dan citra diri dalam masyarakat Jawa, loh.

Peran Gender dalam Penggunaan Bahasa Jawa Sehari-hari

Sekarang kita masuk ke bagian yang paling menarik, yaitu bagaimana gender atau jenis kelamin memainkan peranan signifikan dalam penggunaan bahasa Jawa sehari-hari. Ini bukan berarti ada bahasa Jawa khusus pria dan bahasa Jawa khusus wanita yang sama sekali berbeda, ya. Lebih tepatnya, ada kecenderungan dan ekspektasi sosial yang berbeda terhadap bagaimana pria dan wanita diharapkan berkomunikasi dalam berbagai konteks, terutama dalam memilih tingkatan unggah-ungguh. Secara umum, masyarakat Jawa memiliki pandangan bahwa wanita harus lebih halus, sopan, dan santun dalam berbicara, sedangkan pria, meskipun tetap harus sopan, memiliki sedikit kelonggaran untuk lebih lugas atau santai, terutama di kalangan sebaya atau dalam situasi yang kurang formal. Ini bukan aturan tertulis yang kaku, tapi lebih seperti norma budaya yang tertanam dalam masyarakat sejak kecil. Perbedaan peran ini tidak hanya mempengaruhi pilihan kosakata, tapi juga intonasi, kecepatan bicara, dan bahkan ekspresi wajah saat berkomunikasi. Misalnya, seorang wanita Jawa mungkin akan lebih sering menggunakan krama meskipun lawan bicaranya sebaya, untuk menunjukkan kehalusan dan kesopanannya. Sebaliknya, pria mungkin akan lebih cepat beralih ke ngoko saat berbicara dengan teman akrab, tanpa dianggap kurang sopan asalkan tidak berlebihan. Ini semua adalah bagian dari identitas gender dalam budaya Jawa yang sangat kaya. Mari kita telusuri lebih lanjut bagaimana perbedaan ini terwujud dalam gaya bicara pria dan wanita Jawa.

Gaya Berbicara Pria Jawa: Santai namun Hormat

Gaya berbicara pria Jawa seringkali dianggap lebih lugas dan praktis. Ini bukan berarti pria Jawa tidak sopan, ya, tapi ada kecenderungan untuk menggunakan tingkatan bahasa Ngoko lebih sering, terutama saat berinteraksi dengan teman sebaya atau dalam lingkungan informal. Misalnya, seorang pria muda mungkin akan bilang "Kowe wis mangan durung?" (Kamu sudah makan belum?) kepada temannya, atau "Aku mulih dhisik, ya" (Aku pulang dulu, ya). Penggunaan Ngoko ini menunjukkan keakraban dan kekompakan di antara mereka. Namun, bukan berarti pria Jawa melupakan unggah-ungguh. Ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, atasan, atau dalam situasi formal, pria Jawa akan dengan cepat beralih ke Krama Madya atau bahkan Krama Inggil untuk menunjukkan rasa hormat. Contohnya, seorang pria yang pulang ke rumah setelah bekerja akan berkata "Kula wangsul riyin, Bu" (Saya pulang dulu, Bu) kepada ibunya, bukan "Aku mulih dhisik, Bu". Pemilihan kata "kula" (saya dalam Krama) dan "wangsul" (pulang dalam Krama) adalah bentuk penghormatan. Selain itu, dalam gaya bicara pria Jawa, seringkali terdengar intonasi yang lebih datar dan tegas, serta penggunaan partikel penegas seperti "loh", "kok", atau "to" yang memberikan kesan terus terang. Ada juga kecenderungan untuk menggunakan kata seru yang lebih ekspresif dalam konteks tertentu, terutama saat bercanda atau mengungkapkan kekagetan di antara teman dekat. Namun, tetap diingat, kesantunan adalah hal yang universal dalam budaya Jawa, dan pria Jawa diajarkan untuk menjaga unggah-ungguh di mana pun dan kapan pun, meskipun ada sedikit kelonggaran dalam batas-batas tertentu yang tidak ditemukan pada wanita. Mereka juga cenderung lebih direktif dalam komunikasi, tanpa perlu bertele-tele atau mengemas pesan dengan sangat halus. Singkat, padat, dan jelas seringkali menjadi ciri khas dalam komunikasi pria Jawa, tentu saja tanpa mengabaikan aspek kesopanan yang penting. Ini mencerminkan karakter yang mandiri dan bertanggung jawab yang seringkali diasosiasikan dengan peran gender pria dalam masyarakat Jawa tradisional. Praktikalitas dalam berkomunikasi sering menjadi nilai yang dijunjung tinggi, selama tidak melanggar batasan kesopanan yang sudah baku. Jadi, meskipun terlihat santai, penghormatan tetap menjadi kunci utama dalam gaya berbicara pria Jawa.

Gaya Berbicara Wanita Jawa: Kesantunan dan Kehalusan yang Melekat

Berbeda dengan pria, gaya berbicara wanita Jawa sangat menekankan pada kesantunan, kehalusan, dan kelembutan. Sejak kecil, anak perempuan Jawa seringkali diajarkan untuk berbicara dengan nada yang lebih lembut, pemilihan kata yang lebih halus, dan ekspresi yang lebih sopan. Ini adalah bagian dari nilai-nilai keayuan (kecantikan batin) yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa. Oleh karena itu, wanita Jawa, bahkan dalam situasi informal sekalipun, cenderung lebih sering menggunakan Krama Madya atau Krama Inggil dibandingkan pria. Contohnya, saat berbicara dengan teman sebaya yang sudah akrab, seorang wanita mungkin akan lebih memilih untuk berkata "Kula sampun nedha, Mas/Mbak" (Saya sudah makan, Mas/Mbak) dibandingkan "Aku wis mangan" (Saya sudah makan dalam Ngoko). Pemilihan kata "sampun" (sudah dalam Krama) dan "nedha" (makan dalam Krama) menunjukkan bahwa mereka secara sadar memilih tingkat kesopanan yang lebih tinggi. Ini bukan berarti mereka tidak bisa menggunakan Ngoko sama sekali, ya, tapi penggunaannya akan sangat selektif, biasanya hanya kepada adik atau anak kecil, atau dalam konteks yang benar-benar sangat akrab dan santai. Selain itu, intonasi dalam gaya bicara wanita Jawa cenderung lebih mendayu dan berirama, menghindari nada bicara yang terlalu tinggi atau tegas, yang bisa dianggap kurang ayu atau kurang sopan. Mereka juga sering menggunakan partikel penegas seperti "napa", "inggih", atau "lho" dengan cara yang lebih halus dan memperhalus kalimat. Wanita Jawa juga cenderung lebih tidak langsung dalam menyampaikan pesan, seringkali menggunakan bahasa kiasan atau perumpamaan untuk menghindari kesan blak-blakan atau kasar. Mereka juga sangat memperhatikan ekspresi wajah dan bahasa tubuh saat berbicara, yang semuanya ditujukan untuk menciptakan suasana yang harmonis dan nyaman. Ini adalah manifestasi dari filosofi "alon-alon waton kelakon" (pelan-pelan asal terlaksana) dan "ajining diri saka lathi" (harga diri seseorang dari ucapan) yang kuat dalam budaya Jawa. Sehingga, kesantunan berbahasa bukan hanya sekadar aturan, melainkan juga bagian integral dari identitas dan keanggunan seorang wanita Jawa. Mereka diharapkan menjadi penjaga utama tradisi berbahasa yang halus dan sopan, memastikan bahwa warisan budaya ini terus lestari dari generasi ke generasi. Jadi, gaya berbicara wanita Jawa adalah perpaduan indah antara linguisitika dan nilai-nilai budaya yang mendalam.

Contoh Konkret Perbedaan: Mari Kita Lihat!

Untuk membuat perbedaan bahasa Jawa pria dan wanita ini semakin jelas, mari kita lihat beberapa contoh konkret dalam percakapan sehari-hari. Ini akan membantu kalian membayangkan bagaimana preferensi dan ekspektasi berbeda dalam penggunaan unggah-ungguh antara kedua gender. Misalnya, bayangkan dua skenario, satu pria berbicara dengan pria, dan satu wanita berbicara dengan wanita, dengan konteks yang sama: bertanya tentang rencana pergi ke suatu tempat. Jika seorang pria bertanya kepada teman dekatnya:

  • Pria A: "Kowe sesuk arep neng ngendi, Jon?" (Kamu besok mau ke mana, Jon?)
  • Pria B: "Aku arep dolan menyang omahku simbah, Le. Kowe melu?" (Aku mau main ke rumah nenekku, Le. Kamu ikut?)

Perhatikan penggunaan ngoko yang sangat kental: "kowe" (kamu), "arep neng" (mau ke), "omahku simbah" (rumah nenekku), dan "melu" (ikut). Ini menunjukkan tingkat keakraban yang tinggi dan santai. Tidak ada kesan tidak sopan karena ini antar teman pria sebaya.

Sekarang, bandingkan jika wanita bertanya kepada teman dekatnya:

  • Wanita A: "Sampeyan benjing badhé tindak pundi, Mbak?" (Anda besok mau pergi ke mana, Mbak?)
  • Wanita B: "Kula benjing badhé dhateng dalemipun simbah, Mbak. Panjenengan kersa ndherek?" (Saya besok mau ke rumah nenek, Mbak. Anda mau ikut?)

Lihatlah perbedaan yang sangat mencolok! Meskipun antar teman dekat, kedua wanita ini cenderung menggunakan Krama Madya atau bahkan Krama Inggil untuk menunjukkan kehalusan dan kesopanan yang melekat pada diri mereka. Kata "sampeyan" (Anda), "badhé tindak" (mau pergi), "dalemipun simbah" (rumah nenek), dan "kersa ndherek" (mau ikut) semuanya adalah bentuk krama. Ini bukan cuma kebetulan, loh, tapi memang ada ekspektasi budaya bahwa wanita harus berbicara lebih halus dan sopan. Contoh lain, saat menanyakan kabar orang tua. Seorang pria mungkin akan berkata kepada temannya: "Bapakmu piye kabare? Sehat-sehat wae kan?" (Ayahmu bagaimana kabarnya? Sehat-sehat saja kan?). Sementara itu, seorang wanita, bahkan kepada teman dekatnya, mungkin akan lebih memilih: "Rama panjenengan kados pundi kawontenanipun, Mbak? Saé-saé kemawon, nggih?" (Ayah Anda bagaimana keadaannya, Mbak? Baik-baik saja, ya?). Di sini, kata "rama" (ayah dalam Krama Inggil), "kawontenanipun" (keadaannya dalam Krama), dan "saé-saé kemawon" (baik-baik saja dalam Krama) dipilih untuk menunjukkan penghormatan yang lebih tinggi, bahkan ketika membicarakan orang ketiga. Ini membuktikan bahwa perbedaan bahasa Jawa pria dan wanita adalah sebuah realitas linguistik yang kuat dan kaya akan makna sosial dan budaya.

Mitos atau Fakta: Apakah Bahasa Jawa untuk Perempuan Lebih Rumit?

Ada sebuah mitos atau anggapan yang cukup populer di kalangan masyarakat, bahkan di kalangan orang Jawa sendiri, bahwa bahasa Jawa untuk perempuan itu lebih rumit atau lebih sulit dibandingkan untuk pria. Nah, mari kita bedah, apakah ini fakta atau hanya sekadar mitos belaka? Secara linguistik, tidak ada perbedaan tata bahasa atau kosakata dasar yang secara intrinsik membuat bahasa Jawa yang diucapkan perempuan lebih rumit daripada yang diucapkan pria. Struktur kalimat, konjugasi kata kerja, dan inti kosakata ngoko dan krama adalah sama untuk semua penutur, terlepas dari jenis kelamin mereka. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang sosial dan budaya, anggapan ini mungkin ada benarnya. Kenapa begitu? Karena ekspektasi masyarakat terhadap wanita Jawa dalam berbahasa memang lebih tinggi dan lebih ketat. Wanita Jawa secara tradisional diharapkan untuk menjadi penjaga utama unggah-ungguh dan kehalusan dalam berbahasa. Mereka cenderung lebih sering dan lebih konsisten menggunakan Krama Madya atau Krama Inggil dalam berbagai situasi, bahkan dalam percakapan sehari-hari dengan orang yang tidak jauh beda statusnya. Ini berarti mereka harus memiliki kosakata krama yang lebih banyak dan lebih aktif dalam memori mereka, serta mampu memilih tingkatan bahasa yang paling tepat dengan lebih presisi. Contohnya, seorang wanita yang gagal menggunakan krama inggil saat berbicara dengan mertuanya mungkin akan lebih cepat dianggap tidak sopan dibandingkan seorang pria dalam situasi yang sama. Ada tekanan sosial yang lebih besar bagi wanita untuk selalu tampil ayu (cantik dalam perilaku, termasuk ucapan) dan santun melalui bahasa yang mereka gunakan. Oleh karena itu, meskipun aturan dasar bahasanya sama, tuntutan sosial dan budaya membuat pilihan linguistik yang dihadapi wanita Jawa menjadi lebih banyak dan lebih krusial. Mereka harus selalu mempertimbangkan konteks, lawan bicara, dan citra diri yang ingin ditampilkan melalui bahasa. Ini membutuhkan kepekaan linguistik yang tinggi dan latihan yang konsisten sejak dini. Jadi, bisa dibilang, secara fungsional dan pragmatis, bahasa Jawa untuk perempuan memang terasa lebih menantang karena adanya beban ekspektasi sosial yang kuat. Ini bukan soal kerumitan inheren bahasa itu sendiri, melainkan kerumitan dalam aplikasi dan penyesuaian terhadap norma-norma budaya yang berlaku. Oleh karena itu, anggapan bahwa bahasa Jawa bagi perempuan lebih rumit ini lebih mengarah pada fakta sosial ketimbang mitos linguistik murni.

Dampak Pergeseran Sosial dan Generasi Milenial

Dunia itu terus berputar, gaes, dan begitu pula dengan bahasa dan budaya. Pergeseran sosial yang begitu cepat di era globalisasi dan teknologi ini tentu saja membawa dampak pada penggunaan bahasa Jawa, termasuk perbedaan bahasa Jawa pria dan wanita. Generasi milenial dan Gen Z, misalnya, tumbuh di lingkungan yang jauh berbeda dari kakek-nenek mereka. Dominasi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, ditambah lagi dengan media sosial yang memfasilitasi komunikasi informal, seringkali membuat unggah-ungguh bahasa Jawa sedikit tergerus. Banyak anak muda sekarang yang merasa lebih nyaman menggunakan Ngoko dalam berbagai situasi, bahkan dengan orang yang lebih tua, terutama jika mereka merasa ada keakraban. Batas-batas antara Ngoko dan Krama menjadi kabur, dan perbedaan gender dalam penggunaan bahasa pun mulai melunak. Dulu, wanita Jawa cenderung lebih ketat dalam menggunakan krama, tapi sekarang, banyak wanita muda yang juga lebih sering menggunakan ngoko atau campur kode (menggabungkan bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia) dalam percakapan sehari-hari. Ini bukan berarti mereka tidak sopan, loh, tapi lebih karena lingkungan sosial dan norma yang berkembang. Tekanan untuk selalu berbicara halus dan santun mungkin tidak sekuat dulu, terutama di kota-kota besar yang lebih majemuk. Namun, penting untuk dicatat bahwa pergeseran ini tidak berarti unggah-ungguh telah hilang sepenuhnya. Di daerah pedesaan atau dalam lingkungan keluarga yang masih sangat tradisional, perbedaan gender dalam berbahasa ini masih sangat terasa. Para orang tua dan sesepuh masih sangat menghargai penggunaan bahasa yang tepat dan sopan, terutama dari anak perempuan. Bagi kalian yang tertarik belajar bahasa Jawa di era modern ini, ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang. Kalian bisa mengamati bagaimana generasi yang lebih tua dan generasi muda menggunakan bahasa, dan bagaimana pria dan wanita masih menunjukkan perbedaan dalam pemilihan kata dan intonasi. Intinya, bahasa adalah cerminan budaya, dan pergeseran dalam bahasa Jawa ini adalah refleksi dari perubahan dalam masyarakat Jawa itu sendiri. Memahami dinamika ini akan membantu kita mengapresiasi keindahan bahasa Jawa secara lebih holistik, dan melihat bahwa bahasa itu hidup dan terus beradaptasi dengan zaman. Jadi, yuk terus belajar dan melestarikan, tapi juga fleksibel dalam memahami perkembangannya!

Penutup: Melestarikan Keunikan Bahasa Jawa

Nah, teman-teman, setelah kita menyelami berbagai aspek perbedaan bahasa Jawa pria dan wanita, kita bisa melihat betapa kaya dan kompleksnya bahasa ini. Ini bukan cuma sekadar alat komunikasi, tapi juga cerminan mendalam dari budaya, nilai-nilai sosial, dan filosofi hidup masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi harmoni, penghormatan, dan kesantunan. Unggah-ungguh dan peran gender dalam berbahasa adalah dua pilar penting yang membentuk karakter unik bahasa Jawa. Kita telah melihat bagaimana pria cenderung lebih lugas dan santai dalam pemilihan bahasa Ngoko, sementara wanita lebih condong pada kehalusan dan kesantunan melalui penggunaan Krama yang lebih konsisten. Ini bukan berarti ada satu cara berbahasa yang "lebih baik" dari yang lain, ya. Keduanya adalah bagian integral dari identitas dan ekspresi gender dalam konteks budaya Jawa. Melestarikan keunikan bahasa Jawa ini adalah tugas kita bersama. Bukan cuma dengan berbicara, tapi juga dengan memahami filosofi di baliknya. Ketika kita mengerti mengapa seorang wanita Jawa mungkin memilih kata yang lebih halus atau seorang pria lebih lugas, kita tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar menghargai perbedaan, menjaga etika, dan menghormati warisan leluhur. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, mungkin ada pergeseran dalam penggunaan bahasa Jawa, terutama di kalangan generasi muda. Namun, inti dari unggah-ungguh dan nilai-nilai kesopanan tetap relevan dan penting untuk diajarkan. Semoga artikel ini bisa membuka wawasan kalian semua, gaes, tentang betapa menariknya perbedaan bahasa Jawa pria dan wanita ini. Mari terus belajar, berbicara, dan membanggakan bahasa Jawa kita, agar kekayaan budaya ini tidak lekang oleh waktu dan terus menjadi identitas bangsa yang berharga. Nyuwun sewu kalau ada salah kata, dan matur nuwun sudah membaca sampai akhir!