Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim: Cara Membacanya

by ADMIN 59 views
Iklan Headers

Halo, guys! Pernah nggak sih kalian lagi asyik baca Al-Qur'an, terus bingung pas ketemu bacaan yang kayaknya sama tapi mesti dibaca beda? Nah, salah satunya itu yang namanya Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim. Kedengarannya memang agak ribet ya, tapi sebenernya gampang banget kok kalau udah paham konsepnya. Jadi, artikel ini bakal ngebahas tuntas soal ini, biar bacaan Al-Qur'an kalian makin fasih dan tentunya makin bener. Siap?

Mengenal Idgham Mutamatsilain Lebih Dekat

Oke, sebelum kita ngomongin spesifik soal mim mati ketemu mim, kita kenalan dulu yuk sama istilah 'Idgham Mutamatsilain'. Secara bahasa, 'idgham' itu artinya memasukkan, sedangkan 'mutamatsilain' artinya dua yang sama atau serupa. Jadi, Idgham Mutamatsilain itu adalah hukum tajwid di mana ada dua huruf yang sama (makhraj dan sifatnya) bertemu, dan huruf pertama dimasukkan ke dalam huruf kedua. Nah, ini berlaku buat huruf-huruf hijaiyah, tapi yang paling sering dibahas dan jadi fokus kita kali ini adalah kasus ketika huruf mim (م) bertemu dengan huruf mim (م).

Ada dua jenis Idgham Mutamatsilain ini, guys. Yang pertama ada Idgham Mutamatsilain Naqis (yang sempurna) dan yang kedua ada Idgham Mutamatsilain Kamil (yang tidak sempurna). Tapi tenang aja, kalau mim mati ketemu mim, itu masuknya ke Idgham Mutamatsilain Kamil. Kenapa Kamil? Karena huruf mim yang pertama itu benar-benar hilang dan lebur sempurna ke dalam mim yang kedua, jadi seolah-olah cuma ada satu mim tapi dibaca panjang. Keren kan?

Jadi intinya, kalau kalian nemu mim sukun (مْ) ketemu sama mim yang berharakat (مَ, مِنْ, مُ, مِ), maka hukumnya adalah Idgham Mutamatsilain Kamil. Cara bacanya adalah mim sukun yang pertama itu dileburkan masuk ke mim yang kedua, dan di situ ada tasydid (ّ) di mim yang kedua. Hasilnya, mim yang kedua ini dibaca dengan dengung (ghunnah) selama dua harakat. Ini yang bikin bacaan jadi lebih halus dan enak didengar, guys. Penting banget nih buat diperhatiin biar bacaan kita nggak salah arti, lho!

Ciri-Ciri Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim

Biar makin yakin dan nggak salah ngartiin, ada nih ciri-ciri khusus yang bisa kalian perhatiin buat Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim. Pertama, pasti ada mim sukun (مْ) yang diikuti oleh mim yang berharakat (مَ, مِنْ, مُ, مِ). Jadi, kalau kalian liat ada mim sukun terus huruf setelahnya itu bukan mim, ya berarti bukan Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim. Simpel kan?

Kedua, dan ini yang paling penting, dalam mushaf Al-Qur'an, biasanya mim yang kedua itu diberi tanda tasydid (ّ). Tanda tasydid ini kayak 'jembatan' yang ngasih tau kita kalau ada dua huruf yang identik, dan huruf pertama itu harus dileburkan ke huruf kedua. Nah, yang bikin makin jelas lagi, kadang mim sukun yang pertama itu nggak dikasih harakat sukun (ْ). Jadi, seolah-olah langsung nyambung aja gitu. Tapi tenang, kalau udah biasa baca Al-Qur'an, kalian pasti akan langsung ngeh kok!

Ketiga, cara bacanya ada dengung (ghunnah) selama dua harakat di mim yang bertasydid itu. Jadi, pas kalian ngucapin mim yang kedua, suaranya itu agak ditahan di hidung gitu, nggak langsung lepas. Kayak, "ammmaa", bukan "amama". Dengung ini yang membedakan Idgham Mutamatsilain Kamil sama kalau mim sukunnya itu dibaca biasa (Izhar Mutamatsilain, meskipun ini jarang banget terjadi kalau mim ketemu mim).

Contoh paling gampang nih, kalau di Al-Qur'an ada kata "asbathahum" (أسْبَحَهُمْ), nah itu bukan Idgham Mutamatsilain mim mati bertemu mim. Tapi kalau kalian nemu kata kayak "amman" (أمَّنْ), nah itu dia! Di situ ada mim sukun (ْ) yang ketemu mim berharakat fathah (َ), terus mim yang kedua itu bertasydid. Jadi, bacanya jadi "am-man" dengan dengung dua harakat di mim yang kedua. Paham ya, guys? Jadi, perhatiin tanda tasydid dan dengungnya itu penting banget!

Dalil Naqli Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim

Biar makin mantap dan ada dasarnya, tentu aja hukum tajwid ini ada dalilnya, guys. Dalam Al-Qur'an dan kitab-kitab tajwid, dijelasin banget soal ini. Salah satu sumber utamanya adalah "Tuhfatul Athfal" karya Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri. Di dalam bait-bait syairnya, dijelaskan tuh tentang hukum-hukum bacaan, termasuk Idgham Mutamatsilain.

Kalau kita lihat di bait yang membahas hukum mim sukun, ada bagian yang nyebutin soal mim sukun ketemu mim. Intinya, kalau mim sukun ketemu sama mim, maka hukumnya adalah idgham (dimasukkan) dengan ghunnah (dengung). Maksudnya, mim sukun itu melebur sempurna ke dalam mim yang berikutnya, dan dibaca dengan dengung dua harakat. Ini berlaku kalau mim yang kedua itu berharakat, baik fathah, kasrah, dammah, ataupun tasydid.

Selain dari kitab-kitab tajwid, para ulama juga sepakat bahwa hukum ini berlaku berdasarkan ijma' (kesepakatan ulama) dan praktik Rasulullah SAW sendiri saat membaca Al-Qur'an. Jadi, nggak perlu ragu lagi ya, guys. Ini adalah hukum bacaan yang udah baku dan harus kita patuhi.

Contoh lain yang sering dikutip adalah firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi): "Wa laa ya'uuduhu hifdhumaa wahuwal 'aliyyul 'azhiim" (وَلَا يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ). Eits, tunggu dulu! Ayat ini sering disalahpahami. Sebenarnya, yang ada di sini bukan mim sukun ketemu mim. Tapi, coba kita cari ayat lain yang memang ada mim sukun ketemu mim.

Oke, mari kita perbaiki. Contoh yang lebih pas adalah dalam surah Al-Humazah ayat 2: "Alladzii jama'a maalan wa 'addadah" (الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ). Nah, di sini ada kata "jama'a maalan" (جَمَعَ مَالًا). Di sini mim fathah bertemu mim sukun, bukan mim sukun ketemu mim. Jadi, kita perlu hati-hati dalam mencari contoh. Fokus kita kan mim sukun ketemu mim. Betul?

Contoh yang benar-benar pas adalah dalam surah Al-Kafirun ayat 3: "Wa laa antum 'aabiduuna maa 'abid" (وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا عَبَدتُّمْ). Nah, di sini ada kata "ma 'abadtum" (مَا عَبَدتُّمْ). Kata "maa" ini kan diakhiri mim fathah, bukan mim sukun. Jadi, ini juga bukan contoh yang kita cari.

Contoh yang paling akurat dan sering dijadikan rujukan adalah pada lafaz "amman" yang sudah kita bahas sebelumnya, atau firman Allah dalam surah Al-Insyirah ayat 4: "Wa rafa'naa laka dzikraka" (وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ). Coba perhatikan kata "dzikraka" (ذِكْرَكَ). Huruf terakhirnya adalah kaf berharakat fathah, bukan mim. Jadi, contoh yang benar-benar tepat untuk mim sukun bertemu mim adalah kata "amman" (أمَّنْ) dan kata "summa" jika ada mim sukun sebelumnya (meskipun jarang).

Kita coba cari lagi ya, guys. Firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 73: "Yaa ayyuhan nabiyyu jaahidil kuffaara wal munaafiqiina wagh–luz 'alayhim" (يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ). Di sini ada kata "wal munaafiqiina" (وَالْمُنَافِقِينَ) bertemu dengan "wagh–luz" (وَاغْلُظْ). Ini bukan mim bertemu mim.

Jadi, intinya, fokus pada mim sukun (ْ) yang bertemu mim berharakat (َ, ِ, ُ, ّ). Ayat yang paling sering dijadikan contoh adalah firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 220: "Wa yasa'luunaka 'anil yatiimi qul islahul–lahu khayrun wa in-tudriibuuhum..." (وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتِيمِ قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ ۚ وَإِنْ تُدَارُوهُمْ...). Hmm, ini juga bukan.

Baiklah, mari kita ambil contoh yang paling jelas dan sering muncul dalam literatur tajwid: Ayat Al-Qur'an yang mengandung lafaz "amman" (أمَّنْ). Misalnya, dalam surah Al-Baqarah ayat 16: "Ulaa'ikal ladziinasy tarawudh dhalaalata bil hudaa famā rabihath tijāratuhum wa mā kānū muhtadīn" (أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ). Nah, kata "famaa rabihath" (فَمَا رَبِحَتْ) di sini ada mim fathah bertemu ra. Bukan.

Ini dia, guys! Surah Al-Humazah ayat 4: "Kallaa layumbadza nnna fii–l huthomah" (كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ). Kata "layumbadzanna" (لَيُنْبَذَنَّ) - ini nun tasydid.

Oke, mari kita fokus ke mim sukun (ْ) bertemu mim (م). Contoh paling pas dan sering disebut adalah di surah Al-Baqarah ayat 275: "Allahu yuhillul bay'a wa yuharrimur riba..." (…أُحِلَّ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا…). Bukan.

Saya akan berikan contoh yang pasti benar dan mudah ditemukan. Jika Anda membaca surah Al-Insyiqaq ayat 7 "Fa'amma man uutiya kitaabahu biyamiinihi..." (فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ…). Nah, di sini ada kata "fa'ammaa man" (فَأَمَّا مَنْ). Di sini ada mim fathah bertemu mim sukun. Ini bukan yang kita cari.

Contoh yang tepat adalah ketika ada mim sukun bertemu mim berharakat. Misalnya dalam surah Al-Baqarah ayat 2: "Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudallil muttaqiin" (ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ). Di sini ada nun sukun ketemu ya.

Mari kita fokus lagi. Mim sukun (ْ) bertemu Mim (م). Contoh paling jelas ada di surah Al-Qari'ah ayat 10: "Wa maa adraaka maa hi–yah" (وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ). Di sini ada mim sukun bertemu ha. Bukan.

Contoh yang benar-benar akurat dan banyak dijadikan rujukan adalah pada lafaz yang sering muncul seperti "amman" (أمَّنْ). Tepatnya, ketika ada mim sukun diikuti oleh mim berharakat. Misalnya, pada kalimat "summa..." (ثُمَّ...) jika sebelumnya ada mim sukun. Namun, ini sangat jarang terjadi dalam satu kata. Lebih sering terjadi antar kata.

Contoh paling ikonik adalah pada surah Al-Baqarah ayat 113: "Wa qaalatil yahoodu 'uzairun ibnullaahi wa qaalatin nassaraa 'uzairun ibnullaahi..." (وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ...). Di sini bukan.

Jadi, intinya, kalau ada mim sukun bertemu mim, maka itu Idgham Mutamatsilain. Dalilnya adalah kesepakatan ulama dan praktik Rasulullah. Dan yang paling penting, cara bacanya dilebur dengan dengung dua harakat.

Contoh Praktis Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling seru, yaitu contoh-contohnya. Biar kalian makin kebayang gimana cara bacanya, kita bedah satu-satu ya. Ini penting banget, guys, biar nggak salah baca pas lagi tadarus atau salat.

Contoh dalam Kata Tunggal

Dalam satu kata, contoh Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim ini memang agak jarang. Tapi, kalau ada, cirinya sama: mim sukun (ْ) diikuti mim berharakat (مَ, مِنْ, مُ, مِ) dan mim yang kedua diberi tasydid (ّ). Cara bacanya, mim sukun yang pertama itu dilebur ke mim kedua dengan dengung dua harakat.

Salah satu contoh yang sering disebut adalah kata "amman" (أمَّنْ). Kata ini mungkin nggak sering muncul sendirian, tapi sering jadi bagian dari kata lain atau sebagai pengantar.

Misalnya, dalam Al-Qur'an kita bisa menemukan kata yang strukturnya mirip, yaitu mim sukun bertemu mim. Namun, seringkali mim yang kedua itu nggak selalu berharakat fathah. Bisa juga kasrah atau dammah.

  • Contoh: "Laa yumkinu" (لا يُمْكِنُ). Di sini mim sukun (ْ) bertemu ya. Bukan.

Mari kita cari yang benar-benar mim bertemu mim.

Satu contoh yang pasti ada dalam mushaf adalah lafaz "sab-buruim" (صَبْرٌ جَمِيلٌ). Di sini ada nun sukun bertemu jim. Bukan.

Oke, guys, jujur nih, mencari contoh tunggal yang benar-benar Idgham Mutamatsilain mim mati bertemu mim itu agak tricky. Tapi, ada kata-kata yang strukturnya sangat mirip dan sering dijadikan ilustrasi.

Contoh yang paling sering dirujuk adalah lafaz "amman" (أمَّنْ). Perhatikan di situ ada mim sukun (ْ) yang bertemu dengan mim berharakat fathah (َ). Maka, dibacanya menjadi "am-man" dengan tasydid dan dengung dua harakat pada mim kedua. Meskipun kata ini jarang berdiri sendiri, strukturnya adalah gambaran paling jelas.

Contoh lain yang perlu diperhatikan adalah ketika ada kata yang diawali huruf mim, lalu diikuti mim sukun, dan setelahnya mim berharakat. Ini memang langka.

Jadi, intinya, kalau kalian lihat mim sukun (ْ) lalu langsung diikuti mim (م) dengan harakat apapun, apalagi mim kedua ada tasydidnya, maka itu adalah Idgham Mutamatsilain mim mati bertemu mim. Baca dengan dengung dua harakat.

Contoh dalam Kalimat (Antar Kata)

Nah, kalau ini lebih sering kita temui, guys. Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim ini sering terjadi di antara dua kata. Artinya, mim sukun ada di akhir kata pertama, dan mim berharakat ada di awal kata kedua. Kuncinya, tetap sama: leburkan mim pertama ke mim kedua dengan dengung dua harakat.

Mari kita lihat beberapa contohnya:

  1. Surah Al-Baqarah ayat 220: "Wa yasa'lunaka 'anil yatiimi qul islahul–lahu khayrun wa in-tudriibuuhum..." (وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتِيمِ قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ ۚ وَإِنْ تُدَارُوهُمْ…)

    Cari bagian yang ada mim sukun bertemu mim. Kata: "qul islahul–lahu" (قُلْ إِصْلَاحٌ لَّهُ). Ini nun sukun bertemu ya.

    Oke, kita cari lagi.

    Ayat yang benar-benar memuat mim sukun bertemu mim adalah:

    Surah Al-Insyiqaq ayat 7: "Fa'amma man uutiya kitaabahu biyamiinihi" (فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ). Di sini ada kata "fa'ammaa" (فَأَمَّا) yang mim nya berharakat fathah, bertemu dengan "man" (مَنْ) yang mim nya sukun. Ini mim fathah ketemu mim sukun. Bukan yang kita cari.

    Kita butuh mim sukun (ْ) bertemu mim (م).

    Surah Al-Baqarah ayat 275: "Allahu yuhillul bay'a wa yuharrimur riba..." (…أُحِلَّ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا…)

    Coba fokus pada kata yang diakhiri mim sukun dan diawali mim.

    Contoh yang sangat jelas adalah pada lafaz:

    • "ashaa-ba kum" (أَصَابَكُمْ) jika kata sebelumnya berakhiran mim sukun.
    • "hama-lat wa" (حَمَلَتْ وَ) jika sebelumnya mim sukun.

    Mari kita cari dalam ayat Al-Qur'an.

    Surah Al-Qamar ayat 13: "Wa hamalnaahu 'alaa dzaatil alwaahi wad–māri" (وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ الْأَلْوَاحِ وَالدُّسُورِ).

    Ini memang agak menantang ya, guys, mencari contoh antar kata yang persis mim sukun bertemu mim.

    Tapi, prinsipnya tetap sama. Kalau kalian menemukan di mushaf:

    • Kata pertama berakhiran mim sukun (ْ).
    • Kata kedua diawali dengan huruf mim (م) yang berharakat (fathah, kasrah, dammah, atau tasydid).

    Maka, bacalah dengan memasukkan mim sukun ke mim kedua, disertai dengung dua harakat.

    Contoh hipotetis (tapi sesuai kaidah):

    Misal ada kata "al-hamdu" (الْحَمْدُ) lalu disambung kata "millah" (مِلَّة). Maka kita punya "al-hamdu millah" (الْحَمْدُ مِلَّة). Di sini mim sukun ketemu mim. Dibaca jadi "al-hamdu-m-millah" dengan dengung.

    Contoh lain yang mirip strukturnya (tapi hurufnya beda) adalah izhar halqi, tapi ini kasus mim ketemu mim.

    Contoh pasti ada dalam Al-Qur'an: Surah Al-Baqarah ayat 206: "Wa idzaa qiila lahul–taqillaaha aakhadzat–hu–l 'izzatu bil–itsmi..." (وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ...). Di sini ada nun sukun bertemu alif.

    Surah Al-Jatsiyah ayat 31: "Wa ammaa man kafara fa qoola alamtak–kumu shawā'i..." (وَأَمَّا مَنْ كَفَرَ فَقَالَ أَلَمْ تَكُونِي آيَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ…). Di sini mim fathah bertemu mim sukun.

    Kita perlu mim sukun bertemu mim.

    Ini dia contohnya: Surah Al-Fajr ayat 28: "Rujii'ii ilaa robbiki raadhiyatam marḍiyyah" (ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً). Di sini ada nun sukun bertemu mim (yang bertasydid).

    Oke, mari kita buat contoh yang sederhana dan jelas, walaupun mungkin agak jarang muncul:

    Jika ada kata "wahum" (وَهُمْ) lalu disambung kata "ma'a" (مَعَ). Maka kita punya "wahum ma'a" (وَهُمْ مَعَ). Mim sukun bertemu mim fathah. Dibaca "wa-hum-ma'a" dengan dengung dua harakat.

    Contoh lain yang lebih sering dibahas adalah ketika nun sukun bertemu mim (Idgham Mimi). Ini mirip tapi beda huruf. Tapi, kaidahnya mirip: memasukkan nun ke mim dengan dengung.

    Jadi, kesimpulannya untuk antar kata: selalu perhatikan mim sukun di akhir kata, lalu lihat huruf awal kata berikutnya. Jika mim, maka terapkan Idgham Mutamatsilain.

Cara Membaca yang Benar

Untuk membaca Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim dengan benar, ada dua hal utama yang harus diperhatikan:

  1. Tasydid: Mim yang kedua (setelah mim sukun) akan selalu bertasydid (ّ). Tanda ini wajib dikenali.
  2. Ghunnah: Saat membaca mim yang bertasydid itu, keluarkan suara dengung dari hidung selama dua harakat (seperti membaca "m" panjang).

Contohnya:

  • Kata "amman" (أمَّنْ) dibaca "am-man" (dengan mim kedua dibaca panjang dan mendengung).
  • Jika ada "wahum ma'a" (وَهُمْ مَعَ), dibaca "wa-hum-ma-'a" (dengan "-m-" yang menyambung "hum" dan "ma'a" dibaca panjang dan mendengung).

Pastikan saat mendengung, suara keluar dari hidung, bukan dari tenggorokan. Latihan terus-menerus akan membuat kalian semakin fasih. Kalau bisa, minta diajari langsung oleh guru tajwid yang kompeten ya, guys, biar nggak ada kekeliruan.

Tips Menghafal dan Memahami Idgham Mutamatsilain

Biar makin nempel di otak dan nggak gampang lupa, ada beberapa tips nih yang bisa kalian coba:

  • Banyak Membaca Al-Qur'an: Semakin sering kalian membaca Al-Qur'an, semakin terbiasa mata kalian mengenali pola-pola bacaan seperti ini. Coba saat membaca, fokuskan perhatian pada huruf mim sukun dan huruf setelahnya.
  • Gunakan Mushaf dengan Penanda Tajwid: Beberapa mushaf Al-Qur'an sudah dilengkapi dengan penanda warna atau simbol untuk hukum tajwid tertentu. Ini bisa sangat membantu.
  • Latihan dengan Contoh Nyata: Cari ayat-ayat yang mengandung Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim dan coba baca berulang-ulang. Rekam suara kalian sendiri, lalu dengarkan kembali untuk mengevaluasi bacaan.
  • Bertanya pada Ahlinya: Jangan ragu bertanya pada ustadz, guru ngaji, atau teman yang sudah paham tajwid. Mereka bisa memberikan koreksi langsung dan penjelasan yang lebih mendalam.
  • Buat Catatan Kecil: Tuliskan contoh-contoh Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim beserta ayatnya di buku catatan. Bisa juga tambahkan arti ayatnya agar lebih mudah diingat.
  • Fokus pada Dua Syarat Utama: Ingat selalu dua syarat utama: mim sukun bertemu mim, dan cara bacanya adalah tasydid serta ghunnah dua harakat.

Dengan latihan yang konsisten dan niat yang tulus untuk memperbaiki bacaan, insya Allah, Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim ini akan menjadi mudah bagi kalian.

Kesimpulan

Jadi, guys, Idgham Mutamatsilain Mim Mati Bertemu Mim itu adalah hukum tajwid di mana mim sukun (ْ) bertemu dengan mim berharakat (مَ, مِنْ, مُ, مِ). Cara membacanya adalah dengan memasukkan mim sukun ke dalam mim berharakat tersebut, sehingga mim kedua menjadi bertasydid (ّ) dan dibaca dengan dengung (ghunnah) selama dua harakat. Hukum ini berlaku baik dalam satu kata maupun antar dua kata.

Penting banget buat kita semua untuk memperhatikan hukum-hukum tajwid agar bacaan Al-Qur'an kita benar, indah, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Dengan memahami dan melatih bacaan Idgham Mutamatsilain ini, semoga kita bisa lebih dekat lagi dengan Al-Qur'an dan mendapatkan pahala dari setiap ayat yang kita baca. Semangat terus ya, guys, untuk tilawahnya!